Catatan Moral




Pernahkah kawan melihat seseorang yang penampilannya biasa saja, atau bahkan mungkin tidak menarik, tapi seseorang itu terlihat begitu tenang dan bersahaja?

Atau pernahkah kawan melihat seseorang yang kekurangan untuk mencukupi kebutuhannya, tapi masih sempat berbagi pada orang lain, walau hanya dengan seuntai senyum?

Dan pernahkah kawan melihat seseorang yang sederhana, tapi tidak pernah gusar dalam kesederhaannya?

Tiga contoh diatas inilah orang-orang yang hidupnya penuh berkah, mereka tidak risau atas apa yang tidak mereka miliki, melainkan mereka merasa cukup dengan apa yang mereka miliki. Mereka adalah orang-orang yang ketika melihatnya saja bisa membuat orang lain teduh, inilah yang disebut kharisma. Mengapa mereka begitu tenang dalam kesederhanaan, bersahaja, dan masih mau berbagi walau kekurangan?  Karena dengan begitu hidup akan terasa lebih nikmat. Aku iri pada orang-orang yang seperti ini. Karena sejatinya aku belum sampai pada tahap itu
 
Hari ini, 26 november 2018, aku merasa kosong. Aku pergi ke kampus, tetapi hanya sampai gerbang. Dari gerbang, aku duduk di halte transmetro, menunggu kedatangan trasnmetro dari arah UIN Suska menuju Sudirman. Sejujurnya pada hari ini aku merasa tertekan dengan persoalan rumah. Setiap hari selalu saja ada yang diributkan oleh orang dewasa. mood ku tidak stabil, aku merasa kosong, dan jadilah keluyuran ini sebagai pelampiasannya agar aku tidak berada dirumah. Kuputuskan untuk singgah di pustaka wilayah. Lagi lagi pustaka wilayah, jika perpustakaan ini bisa bicara, mungkin dia sudah katakan bosan melihat kedatanganku. Tapi mau bagaimana, aku tidak punya tempat lain untuk melarikan diri dari segala tekanan dirumah dan juga tekanan dikampus.

Sesampainya di pustaka wilayah, Kupilih untuk melaksanakan solat duha beberapa rakaat. Ada seorang ibu yang sudah tua yang juga melaksanakan solat duha. Perhatianku tertuju padanya, sewaktu aku solat, ibu itu sedang berdoa, dan setelah aku selesai solat, ibu itu masih tetap berdoa, begitu panjang doa yang ia panjatkan, dengan khusyuk ia mengangkat tangan dan menghadapkan wajahnya keatas.

Aku tertegun melihat apa yang ibu itu bawa, sebuah tas yang sudah kumal, mukena  yang ia pakai juga sudah tidak baru lagi, dan penampilannya begitu sederhana. Tapi dengan keyakinan penuh ia berdoa begitu panjang pada Allah. Pertemuan ku dengan ibu itu seperti sebuah sinyal yang Allah kirimkan untukku menyadari bahwa ditengah berbagai persoalan hidup, tetap saja ada hal yang bisa untuk disyukuri. Memang dengan bersyukur tidak lantas membuat permasalahan bisa selesai dengan tiba-tiba. Tapi ini tentang melihat sisi baik yang selalu saja menjadi tidak terlihat jika sisi buruk telah menguasai. Ini tentang bagaimana aku masih bisa melihat sisi baik dengan terang dan jelas, agar hidup ini terasa nikmat dan tentunya berkah. Mensyukuri apa yang ada dan memaknai arti berlapang dada tentu jauh lebih baik dari pada terus-terusan merutuki kenyataan. Aku belajar bahwa ada hal-hal yang diluar kendali diriku dan tidak kuinginkan, harus ku akhiri dengan kalimat "ya sudahlah, ikhlas saja".

Orang-orang seperti ibu tadi adalah orang-orang yang dunia tidak berpihak padanya, tidak ada sepasang mata manusia yang meliriknya, tapi entah mengapa aku begitu yakin, ibu itu punya derajat di sisi Allah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti Hari

Kotak Persahabatan