Bagiku, ia lebih abang dari abang manapun.
Ini tentang abang kandungku. Namanya
ikhsan wahyudi, 22 tahun, aktivitasnya sekarang adalah kuliah dan kerja. Apa yang
bisa aku ceritakan tentangnya? Banyak. Over all, tak ada salahnya ia ku
masukkan kedalam daftar laki-laki berpengaruh di hidupku, tentunya setelah
ayah. Mengapa? Karena ia termasuk laki-laki penyayang. Simpel saja, aku mudah
luluh dihadapan orang-orang yang berwatak penyayang. Abangku menepikan
kepentingannya untuk kepentingan orang yang ia sayang, ia bukanlah laki-laki
yang gengsi untuk mengungkapkan rasa sayang, menunjukkan perhatian, bahkan
kalaulah ia bisa menjemput bulan untukku, untuk adik satu satunya, pasti akan
ia bawa bulan itu. Ia pandai menempatkan dirinya sebagai seorang abang, sebagai
anak tertua.
Hal hal kecil yang sampai
kapanpun akan ku kenang, misalkan ketika aku mencari tugas diwarnet dan itu
butuh waktu yang cukup lama, ia rela menunggu ku hingga berjam-jam, takkan mau ku
suruh pulang sebelum tugasku selesai. Atau ia mau menjemputku ke kampus setelah
ia pulang kerja, kawan, kau ku beri tahu, bukan main jauh jaraknya antara
kantor abangku dan kampus tempat aku kuliah. Hal hal lainnya seperti, ia
menyelimutiku disaat aku tidur, atau beberapa kali ia pernah menyiapkan bekalku
ke kampus jika aku sedang terburu-buru. Tak lupa, ia sering membelikanku
makanan. Itulah hal hal kecil yang akan aku ingat sampai kapanpun. Bagiku, ia
lebih abang dari abang manapun.
Kawan, kuceritakan padamu, sama
halnya seperti perempuan, di dunia ini banyak jenis lelaki. Aku yang sejak
kecil telah bersama ayah dan abangku, aku mengerti betul beberapa perwatakan
laki-laki. Ada jenis laki-laki yang suka membual dan banyak omong, itu bukan
watak abangku. Ada laki laki yang ramah pada orang lain, tapi bermuka masam
pada keluarga sendiri, itu juga bukan watak abangku. Ada laki-laki yang royal
pda kawan sejawat, tapi culas pda saudara, sekali lagi itu juga bukan watak
abangku. Atau laki-laki yang concern penuh dengan keluarga hingga lupa mengurus
diri dan tak tau cara berteman, abangku juga bukan orang yang seperti itu. Barangkali
abangku bukanlah laki laki yang pandai menarik benang merah dari suatu duduk
permasalahan. Tetapi cukuplah ia menjadi laki laki yang selalu mendengarkan
pendapat orang yang ia sayang.
Lalu kekurangannya apa? Ahh kawan,
untuk apa kita membicarakan kekurangan seseorang. Tetapi yaa sudahlah, kau akan
ku beri tahu kekurangan abangku. Abangku, emosinya terkadang naik turun. Terlebih
dalam dua hal, pertama, jangan ganggu dia ketika ia sedang lapar atau bad mood.
Kedua, jangan pernah utak atik isi lemarinya. Dan sayangnya, aku bukanlah adik
yang bisa berkompromi untuk hal itu...
Sekarang aku mengerti mengapa
Allah menempatkan ku sebagai anak kedua. Itu semua karena ada kelebihan abangku
yang tak ku punya, atau ada kelemahanku yang menjadi kekuatannya.
Ohh abang, cepatlah wisuda,
cepatlah menjadi sarja ekonomi, cepat cari uang banyak banyak, kita belikan ama
dan ayah rumah.
Komentar
Posting Komentar