Menanti Adzan Maghrib
Sudah lama gak ngeblog.
Dan hari ini nge blog lagi, di sore hari menanti adzan magrib.Judul topik kali ini -Menanti Adzan Maghrib - sebenernya ga sesuai sama isinya, tak apalah, toh tulisan ini aku yang buat, aku yang baca dan aku yang nikmati.
Oke, topik bahasan kali ini tentang hidup dan kehidupan.
Mengapa memilih topik itu? Entahlah, tetapi rasanya topik ini
perlu untuk dibahas, walaupun sedikit lebih abstrak, terlebih disaat aku menginjak umur 21 tahun. Umur dimana
aku mulai memahami arti hidup, dan bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. Sulit
untuk diungkapkan apa yang dirasa, tetapi sesungguhnya, segala hal yang telah
dijalani selama 21 tahun terakhir adalah hal yang patut disyukuri dan
direnungkan.
Direnungkan? Yaa, direnungkan. Direnungkan untuk kebaikan
diriku kedepannya, sebagai momen untuk introspeksi diri, sebagai tolak ukur
diri sendiri, hal ini dirasa perlu mengingat selama ini aku yang belum cukup
mandiri.
Sejak menginjak umur 21 tahun, tepatnya 31 desember 2016
lalu, aku mulai berfikir apa yang akan ku lakukan kedepannya, mulai mencari
cari kekurangan diri sebagai bentuk introspeksi, mulai menilai fenomena
fenomena di lingkungan sendiri, mulai menilai karakter orang orang disekitar.
Dan
setelah itu, aku mulai sering bilang ke mama, “mah, hidup ini keras ya mah”. Yaa..
itulah yang keluar dari mulut ku setelah beberapa bulan terakhir kuhabiskan
untuk menganalisa mengenai hidupku. Seperti biasa, respon si mama yaa… diam, sesekali tersenyum.
Barangkali yang mama fikirkan, anak gadisnya mulai memikirkan kehidupan, mulai
dewasa.
Setelahnya aku juga sering mengutarakan ke mama, “mah, jadi
anak kecil itu menyenangkan ya ma, gak tau masalah, taunya Cuma buat masalah”.
Akhirnya, mama mulai bertanya, “kenapa jadi pengen anak
kecil terus?, temen temen udah pada nikah, bentar lagi iin malah lahiran”. Iin,
salah satu sahabat ku sewaktu sekolah dulu. Aku tidak ingin berbohong bahwa aku
siap bertarung dengan hidup yang keras ini, barangkali terasa sedikit klise dan
terlalu baper jika harus membahas ini. Tetapi nyatanya ya begituu, apa yang terjadi di kehidupan ku
selama 21 tahun adalah nikmat yang harus ku syukuri dan membuatku merasa tidak
ingin keluar dari zona aman ini.
Aku terlahir dari Rahim seorang wanita yang
begitu mencintai diriku, menyayangi ku lebih dari dirinya sendiri, aku adalah
segalanya baginya, aku adalah hidup mamaku. Aku punya seorang abang dan ayah
yang juga sayang padaku. Kebutuhan ku dipenuhi oleh orang tuaku, kasih sayang,
pendidikan, fasilitas. Semuanya kudapatkan dengan mudah.
Aku mulai menyadari bahwa yang sulit itu adalah bertarung
melawan diri sendiri. Bukan kah musuh
terbesar dalam hidup ini adalah diri sendiri.
Dari sini aku sering mengatakan pada diri sendiri, “rani, life
is must go on”
Hingga alunan suara andini dengan lagunya – serahkan pada
allah semata ku ulangi berkali kali. Detik itu juga aku menyadari, bahwa dalam
hidup ini, kita manusia hanya bisa melakukan yang terbaik, melakukan semampu
kita, bermanfaat bagi orang lain, sisanya biarlah Allah yang mengurus. Bukankah
Allah sudah berjanji dibalik kesulitan itu ada kemudahan.
Ngeblog kali ini ku sudahi, barangkali inilah sepotong
cerita dari sudut pandang ku, yang mungkin suatu saat akan kubaca kembali.
“be strong girl, life is must go on”, sekali lagi kalimat
itu ku bisikkan pada diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar