wanita terhebatku



Hallo, long time no see. Setelah berlelah-lelah beberapa bulan belakangan, kali ini menyempatkan diri untuk kembali mengisi linimasa dari blog ku yang sepi ini, wkwkwkwk.

kali ini aku ingin berbagi cerita tentang ibuku. I call her, mama. Ia wanita yang sangat ku cintai, wanita terhebatku. Aku bersyukur dilahirkan dari rahimnya. Postingan ini ku khususkan untuk mendeskripsikan tentang mama, se-detail yang ku bisa.

Bisa dikatakan posisiku sebagai anak terakhir dan satu-satunya perempuan membuatku memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan mama. Yaa, aku memang lebih dekat dengan mama ketimbang ayah dan abang. Aku tipe anak yang beranggapan bahwa hubungan antara anak dan orang tua tidak terikat usia. Bahkan diusiaku yang sudah tidak lagi anak-anak ini (berapaan emang? Baru juga 21), aku masih bersandar di bahu mama, masih mengeluh di depannya, masih menunjukkan rasa senang dan sakit ku di hadapannya, masih tidur bersamanya, tak segan memeluk dan menciumnya kapanpun aku mau. Mama adalah tempat bercerita, ada hal-hal yang hanya bisa ku bagi dengan mama.

yess I still childish, tapi itu hanya ku tunjukkan pada mama. Sekali lagi ini soal, kenyamanan.

Mama adalah tipe wanita praktis tapi juga penuh aturan. Ibu rumah tangga tulen yang setia menunggu di depan pintu rumah kalau-kalau anaknya terlambat pulang. Ibu rumah tangga yang handphone-nya stand by ditangan dan tak ragu untuk menelepon puluhan kali dalam sehari kalau anaknya lupa memberi kabar. ibu rumah tangga yang tak sungkan menunjukkan kesalahan anggota rumah secara langsung.

Selama 21 tahun aku hidup dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai lingkungan, aku cukup mengamati beberapa tipe wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Ada ibu rumah tangga yang suka menggampangkan persoalan dan menyepelekan keadaan. Mama bukan tipe yang seperti itu. Dulu waktu SD, diantara teman-teman yang lain, aku-lah yang paling sering bawa bekal ke sekolah. disaat orang tua yang lain memilih memberi uang lebih pada anaknya untuk beli makanan, mama lebih memilih bangun subuh mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya. Bahkan hingga aku masih kuliah saat ini, selalu seperti itu, harus bawa bekal. Tak jarang aku melihat jejeran baju sudah terjemur ketika subuh, mama sudah mencucinya disaat aku masih tertidur. atau bahan masakan yang sudah memenuhi palataran dapur, mama sudah ke pasar sebelum matahari meninggi. Disaat seperti ini biasanya aku hanya mengerjakan sisanya, mencuci piring dan membersihkan rumah.

sekalipun mama adalah tipe yang praktis dan sederhana, mama bukan ibu rumah  tangga yang cuek bebek kalau dirumah ada masalah. jika dirumah ada persoalan, mama yang paling terdepan menyelesaikan persoalan tanpa mau menunda waktu, bahkan tak ragu pada detik itu juga dan ditempat itu juga.

Praktis-nya mama bisa dilihat kalau belanja kebutuhan pangan, jika ada ibu rumah tangga yang memilih muterin satu pasar atau bahkan beberapa pasar untuk nyari barang yang murah, mama bukan yang seperti itu, mama paling anti keliling berjam-jam untuk nyari barang yang bener-bener klop. Apa yang ada, itu yang dipilih. Harga mahal? ditawar. Jika tak bisa ditawar? tinggalin, cari yang lain.

Aku juga menemukan ibu rumah tangga yang waktu nya lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi urusan orang lain, tentunya mama bukan ibu rumah tangga yang seperti ini.
Di dunia ini juga ada ibu rumah tangga yang suka melebih-lebihkan masalah, seolah-olah masalah hanya miliknya dan keluarganya, mama juga bukan tipe yang seperti itu. Pernah ada keributan di dekat rumah, si ibu lepas control memarahi anak yang terlambat pulang, hampir-hampir satu riau tau tentang keributan itu (ahh..alay). dengan polosnya aku bertanya,
Aku: “ma, kalau adek pulang telat juga bakal digituin?”
Mama: "nggak"
Aku: "jadi di apain?"
Mama: "ditelponin, terus ditungguin pulang, kalau lapar nanti juga pulang"
Aku: "kalau gak pulang-pulang?"
Mama: "berniat gak pulang-pulang?"
Aku: "nggak juga siih,…(speechless)"

Mama adalah wanita yang realistisnya dalam level medium-high, segalanya dipertimbangkan, baik buruknya, untung ruginya, segalanya mesti bener dan sesuai aturan.  Dalam mendidik aku dan abang, mama memang lebih tegas dari ayah.

Aku masih ingat, bagaimana dengan sabarnya mama menjelaskan padaku bagaimana bersikap menjadi perempuan. Semua yang mama beri tahu adalah hal yang memang seharusnya untuk ku ketahui sebagai seorang anak perempuan yang akan tumbuh dewasa. Tentunya mama memainkan perannya sebagai orang tua dan juga sebagai sesama wanita, mengingat aku adalah anak perempuan satu-satunya. 

Tertinggal dalam benakku bagaimana mama memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepadaku tentang harga diri dan kehormatan wanita yang mesti dijaga. mama memberikan kepercayaan penuh pada ku tentang pergaulanku, kepercayaan yang inshaAllah akan ku jaga. Mama mengingatkan agar tidak melampaui batas dalam hal apapun, agar selalu menjaga kejujuran, agar jangan pernah berani meninggalkan sholat.
Aku tahu, dalam diamnya mama bersyukur aku adalah anak rumahan, tentunya jarang keluar rumah jika  bukan karena urusan yang penting-penting amat.

Ma, adek sayang mama. Terimakasih untuk semuanya, Terimakasih telah bersabar menghadapi anakmu yang keras kepala ini. 




I love my mother as the tree love water and sunshine – she helps me grow, prosper, and reach high peak. – Terri Guillements

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti Hari

Kotak Persahabatan

Catatan Moral