Pita Sepatu

Sudah seminggu ini aku lebih pagi datang ke kampus dari biasanya, dan pulang lebih sore dari biasanya. Setelah ujian seminar hasil 2 minggu yang lalu, aku harus menyelesaikan berkas untuk ujian kelulusan, seperti merampungkan skripsi dan menguber tanda tangan dosen untuk surat bebas laboratorium. Ujian seminar telah usai tidak berarti skripsi ku siap cetak, melainkan harus di revisi lagi oleh ketiga penguji dan kedua pembimbing, memang sudah seperti itu prosedurnya.

Sudah takdirNya aku harus berurusan dengan seorang dosen yang notabenenya terkenal saklek sejagat raya Fakultas Teknik, beliau menjadi penguji 3 seminar penelitianku. Apa yang bisa ku jelaskan tentangnya? Aturan adalah aturan, tidak menerima kesalahan, tak ada toleransi. Kira-kira begitulah semboyannya, tidak cukup hanya sebagai penguji 3, beliau juga merupakan kepala prodi, salah sedikit atau melanggar aturan, alamatlah skripsi tidak ditanda tangani, surat bebas lab tidak di tanda tangani, itu artinya harus melambaikan tangan pada ujian komprehensif yang sakral itu, alias tunda ujian kelulusan.

Dengan wataknya yang begitu keras membuatku sangat berhati-hati, menuruti segala peraturan dan menunggu panggilan revisi. What? Panggilan Revisi? Yess… untuk revisi harus menunggu dipanggil, ini sudah menjadi tradisi untuk berurusan dengan dosen yang satu ini. Jangan harap berurusan dengannya bisa dengan mudah mengetuk pintu, menyampaikan hajat, lalu pamit permisi. Aku harus as always ready duduk di seberang ruangannya, menunggu entah kapan beliau akan memanggil.

Dan hari ini aku kelelahan, sudah seminggu laporan di ajukan, tapi aku tak kunjung dipanggil untuk revisi. Pukul 4 sore kuputuskan pulang, aku berjalan dari laboratorium belakang tempatku menunggu menuju pelataran loby gedung C untuk memesan Ojek online. Peluh membasahi switerku, bulir keringat sebesar biji jagung berjejeran di pelipis dahiku. Aku berjalan gontai sambil sesekali menatap langit yang mulai memerah. Aku teringat ini jumat sore, waktu mustajab untuk berdoa, dengan lirih ku bisikkan, “Ya Allah mampukan aku untuk menyelesaikannya, teguhkan hatiku”. Tanpa sadar, pita sepatu kananku terlepas dan terinjak oleh kaki kiriku, hampir saja aku tersandung. Kupandangi kampus telah sepi, ku pilih untuk duduk sebentar diujung lorong laboratorium dan mengikat pita sepatuku.

Aku tertegun. Bukan hanya orangnya saja yang lelah, tapi sepatunya juga. Tiba-tiba saja sisi melankolisku menguasai. Sudah banyak hal yang ku temui dikampus ini, kampus ini yang mengenalkanku pada diriku sendiri, menyadarkanku akan sisi kerasnya kehidupan, Apa yang tidak ku temui di kampus ini? bertemu dengan berbagai macam karakter orang, tekanan demi tekanan, tuntutan pada setiap mata kuliah, waktu tidur yang tidak karuan, tugas besar, mata yang semakin rabun setiap semester, aku pernah jam 12 malam masih berlarian di lorong kampus untuk mengejar deadline, aku pernah selama 4 bulan tidur dikampus, makanan dan pakaian setiap hari diantarkan oleh orang rumah, atau jika sedang gila-gilanya tak jarang aku ngampus dalam keadaan tidak mandi karena badan meriang akibat tidak tidur semalaman, belum lagi penelitian yang menguras tenaga sekaligus dompet. Tapi kesulitan demi kesulitan itu adalah sesuatu yang pasti jika berkuliah di fakultas teknik,  mengapa? Karena engineer tidak terlahir dari perkuliahan yang aman, nyaman, tentram dan menyenangkan, melainkan dari tekanan demi tekanan.

Tidak jarang aku merasa jengah dan menjalaninya dengan setengah hati, tapi itu semua terurungkan jika aku kembali berdiri pada garis harapan dan kenyataan. Apa harapan keluargaku, bagaimana dengan setianya mereka menunggu, Dan realita seperti apa yang harus kuhadapi, itu semua mengalahkan kejengahanku. Terlebih jika aku mengigat sebentar lagi aku akan ujian komprehensif.

Telfon dari ojek online menghentikan lamunanku, aku berdiri dan melanjutkan langkah. Kuseka peluh di pelipis, aku berlari kecil dan segera pulang.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti Hari

Kotak Persahabatan

Catatan Moral