Assalamualaikum Ayah

Dua tahun berlalu sudah, mereka bilang jangan bersedih, itu tidak salah, tapi itu adalah nasehat klise yang sudah puluhan kali kudengar. Aku kira semua anak perempuan di dunia ini sepakat, ada pilu di sudut hati paling dalam bila ditinggal Ayah disaat masih gadis, disaat semua anak perempuan mengharapkan Ayahnya akan menikahkan putrinya kelak di meja akad, akupun menginginkan hal yang serupa, namun tentu hal semacam itu tidak akan pernah kualami. Tanpa Ayah hidupku tak lengkap.

Aku tidak pernah menyalahi takdir, sebab Allah yang bersemayam di langit sana adalah sebaik-baik pengatur kehidupan tiap-tiap hambaNya. Namun tentu Aku tidak bisa berbohong, ketika rindu itu menyala di relung kalbu, adakah mungkin untukku membebaskan diri dari kobarannya? Apalagi yang bisa kuperbuat selain membasahi rindu dengan do`a-do`a, dan seumur hidupku akan menjadi do`a untukmu.

Ayah, perihal amanah yang Ayah titipkan telah kusampaikan, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Ku kira sirih akan bertemu pinang, yang dikira akan menjaga justru ialah yang berpaling, yang dikira bisa dipercaya kini ialah yang mengingkari, ia yang memulai ia pula yang mengakhiri. Jika saja, sesaat saja Ayah hadir disini, tentu Ayah akan membelaku dengan sepenuh hati. Tapi tak apa, sekali lagi Allah yang paling mengerti apa yang terbaik.

Ayah, terimakasih untuk segalanya, terimakasih sudah berjuang sedemikian kerasnya untuk keluarga. Kasihmu lama tersulam, di ruang paling dalam, terlalu jauh tak terselam.

 




 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti Hari

Kotak Persahabatan

Catatan Moral